Commentaries : Belajar dari Tragedi Kemanusiaan Hiroshima dan Nagasaki

Senjata nuklir adalah senjata pemusnah massal yang memiliki dampak paling dahsyat dibandingkan dengan senjata-senjata pemusnah massal yang lain. Senjata ini memiliki daya ledak yang sangat besar dan memberikan dampak yang sangat menghancurkan serta mematikan bagi umat manusia dan lingkungan sekitar. Seperti akibat dari ledakan bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki yang dapat meluluh-lantakan sebuah kota, menghancurkan bangunan, merusak lingkungan sekitar, serta menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Dampak senjata nuklir bahkan dapat terus memberikan pengaruh jangka panjang kepada umat manusia maupun lingkungan alam di area tersebut. Ironisnya senjata nuklir adalah satu-satunya senjata pemusnah massal dan tidak manusiawi yang memiliki status legal sampai diadopsinya Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir (Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons, TPNW) tahun 2017.

Sepanjang sejarah, senjata nuklir baru digunakan dalam pertempuran antara kekuatan Sekutu melawan kekuatan Poros pada Perang Dunia Kedua. Pada pagi hari, di tanggal 6 Agustus 1945, pesawat Enola Gay yang diterbangkan oleh pilot bernama Paul W. Tibbets melintasi kota Hiroshima dan menjatuhkan sebuah bom atom ke pusat kota industri yang padat penduduk tersebut. Hasilnya adalah kehancuran yang masif. Mengutip dari ICAN, bom atom yang dijatuhkan tersebut memiliki daya ledak setara dengan 15.000 ton TNT, menyebabkan 140.000 penduduk meninggal di akhir tahun 1945, dan 70 persen bangunan rata dengan tanah. Sementara data dari Pemerintah Kota Hiroshima menyebutkan sebanyak 320.000 warga terdampak, di antaranya 118.000 warga meninggal pada hari itu juga. Pada waktu itu, penduduk Hiroshima berjumlah sekitar 350.000 jiwa. 

Tiga hari kemudian, pasukan Amerika Serikat kembali menjatuhkan bom atom yang bernama “Fat Boy” ke kota Nagasaki yang berjarak 410 kilometer dari kota Hiroshima dan mengakibatkan sekitar 74.000 warga sipil meninggal dunia serta menghancurkan berbagai bangunan dan infrastruktur kota. Berbagai sumber melaporkan bahwa hanya dalam hitungan detik, sebuah ledakan bom atom dapat menyebabkan terbentuknya awan menyerupai kubah jamur setinggi 13 kilometer menjulang ke udara kota Hiroshima dan Nagasaki. Sesudahnya, gelombang panas menyapu kota menyebabkan kebakaran dan diikuti hujan abu yang mengguyur seluruh kota.

Seorang saksi bernama Tsutomu Yamaguchi ingat betul betapa mengerikan kejadian di hari itu. Mengutip dari dw.com, pagi itu Yamaguchi dalam perjalanan ke tempat kerja, tiba-tiba dia melihat sambaran kilat yang sangat menyilaukan dan kemudian terdengar ledakan yang sangat dahsyat. Ia mengalami luka bakar yang parah dan menyaksikan situasi di sekitarnya yang sangat kacau. Gedung perkantoran, rumah, jembatan dan bangunan lainnya hancur berantakan, membuat kota industri Hiroshima hampir rata tanah dan korban dengan luka bakar yang mengerikan bergelimpangan. Pengalaman serupa juga disampaikan oleh para hibakusha, sebutan bagi para korban selamat yang terdampak efek bom atom Hiroshima dan Nagasaki, diantaranya Matsushima Keijiro, Ogura Keiko, Takahashi Akihiro, dan beberapa lainnya. 

Yamaguchi merupakan seorang hibakusha yang unik, karena mengalami dua kali peristiwa pengeboman dua kota di negeri Sakura itu. Tidak menyangka akan adanya petaka serupa, mengutip dari Deutsche Welle (DW), Yamaguchi memutuskan kembali ke kampung halaman di Nagasaki pada tanggal 8 Agustus 1945 dimana keesokan harinya pasukan Amerika Serikat kembali menjatuhkan bom atom di kota kelahirannya. Lagi, dia mengalami secara langsung kejadian mengerikan dalam sejarah hidupnya, bahkan dalam sejarah umat manusia di seluruh dunia. 

Tidak selesai di hari itu saja, ledakan bom di Hiroshima dan Nagasaki juga menyisakan berbagai penderitaan bagi hibakusha untuk jangka waktu yang lama. Paparan radiasi yang disebarkan menimbulkan penyakit-penyakit seperti kanker, leukimia, kerusakan organ, risiko keguguran tinggi, dan dampak psikologis berkepanjangan yang harus ditanggung oleh para penyintas. Dampak radiasi internal dari nuklir ini juga menjadi indikator yang diakui oleh Kementerian Kesehatan Jepang untuk menjadi basis pemberian kompensasi kepada para penyintas. Selain itu, para hibakusha juga harus mengalami diskriminasi sosial seumur hidupnya akibat stigma sebagai pembawa gen cacat dan penyakit. Selama berpuluh tahun, para hibakusha kesulitan untuk mencari pasangan dan diterima di lingkungan pekerjaan layaknya warga Jepang biasa.

Laporan dari Economic Stabilization Board di tahun 1949 juga menunjukkan kerugian ekonomi yang cukup fantastis akibat peristiwa tersebut. Kerugian yang ditimbulkan oleh kerusakan bangunan, infrastruktur, jalan, dan fasilitas komunikasi di Hiroshima dan Nagasaki mencapai total $17.682.000 (kurs 1947: 1 dolar AS/50 yen). Besaran ini belum termasuk biaya rehabilitasi kota, bantuan sosial bagi korban, dan pemulihan lingkungan. Dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan tidaklah main-main. Radiasi dari bom atom menyebabkan pencemaran bagi lahan dan hasil pertanian, perikanan, dan air bersih yang menjadi konsumsi sehari-hari tidak hanya oleh warga Hiroshima dan Nagasaki, tapi juga mencakup wilayah-wilayah lain di sekitarnya. Radiasi ini menempel selama bertahun-tahun lamanya, menyebabkan kelangkaan sumber pangan lokal yang layak dikonsumsi.

Untuk mengenang sekaligus selalu mengingatkan masyarakat Jepang dan juga masyarakat global, maka pemerintah Jepang mendirikan 2 buah museum. Jika anda mengunjungi kota Hiroshima, Jepang, maka anda akan menemukan Hiroshima Peace Memorial Museum, di mana terdapat sebuah monumen peringatan peristiwa peledakan bom atom yang terjadi di kota tersebut 76 tahun yang lalu. Terdapat satu bangunan bernama Gembaku Dome, satu-satunya gedung yang masih tersisa hingga hari ini, menjadi saksi biru peristiwa memilukan di kota industri yang cukup maju di Jepang pada masanya. Sedangkan di kota Nagasaki didirikan Nagasaki Atomic Bomb Museum. Kedua Museum ini menyimpan sisa-sisa reruntuhan, foto, dan dokumen penting lainnya yang menghadirkan realita di masa kelam itu.

Belajar dari peristiwa di dua kota bersejarah di Jepang, penggunaan senjata nuklir di masa mendatang sama sekali tidak dapat dibenarkan secara moral dan kemanusiaan. Dampak yang ditimbulkannya tidak dapat memenuhi dua prinsip utama dari Hukum Humaniter Internasional, yaitu prinsip pembedaan dan prinsip proporsionalitas. Saat senjata nuklir diledakkan, maka akibat dari ledakan itu tidak dapat membedakan siapa atau apa objek yang akan terkena dampaknya, apakah dia pihak dan objek militer atau sipil. Peristiwa Hiroshima dan Nagasaki menunjukkan bahwa 90 persen korban adalah penduduk sipil yang seharusnya merupakan pihak-pihak yang wajib dilindungi dalam situasi apapun, bahkan dalam situasi perang. Begitupun, ledakan bom nuklir tersebut tidak dapat memilih hanya akan menyasar target militer, karena terbukti sebagian besar gedung dan infrastruktur sipil rusak dan hancur akibat pengeboman tersebut.

Penggunaan senjata nuklir di dua kota ini juga memberi pelajaran berharga bagaimana penggunaannya telah memberikan dampak yang tidak proporsional untuk mencapai tujuan militer yang sah. Dampak pengeboman tersebut telah menyebabkan kesakitan yang luar biasa dan tidak perlu, telah menghilangkan korban nyawa yang sangat masif, dan korban harta benda yang tak ternilai. Dampaknya pun tidak hanya dirasakan pada saat itu, tetapi terus berlanjut hingga puluhan tahun setelahnya. 

Lebih dari tujuh dasawarsa sejak bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, derita kemanusiaan yang ditimbulkannya masih dirasakan dan mengusik rasa kemanusiaan kita. Tetapi, kesadaran untuk menghapuskan ancaman kemanusiaan tersebut dari muka bumi ternyata masih jauh dari harapan. Umat manusia masih hidup dalam bayang-bayang ancaman kepunahan dengan hampir 15.000 bom nuklir yang ada di dunia ini. Hadirnya Traktat Pelarangan Senjata Nuklir pada tahun 2017 memberi secercah harapan bahwa dunia yang bebas dari bayang-bayang senjata nuklir bukan sebuah ilusi, sekalipun untuk mencapainya bukan perjalanan yang pendek dan mudah.

Peristiwa Hiroshima dan Nagasaki memberi peringatan kepada kita untuk jangan pernah mengulang petaka kemanusiaan ini. Penting untuk meresapi secara mendalam, satu pesan penting yang tertulis di dekat Bel Perdamaian di Museum Hiroshima, ”We dedicate this bell as a symbol of Hiroshima Aspiration. Let all nuclear arms and wars be gone, and the nations live in true peace!” Pesan ini semestinya menyadarkan kita akan urgensi pelarangan senjata dan perang nuklir agar umat manusia dapat hidup dalam perdamaian yang hakiki.

Referensi

Bugnion, Francois. (1995). “Remembering Hiroshima. International Review of the Red Cross, No. 306. https://www.icrc.org/en/doc/resources/documents/article/other/57jmge.htm

Higan-No-Kai, Hiroshima. (1964). Hiroshima Peace Bell. https://travel.gaijinpot.com/hiroshima-peace-bell/

Hiroshima and Nagasaki Bombings. (2021). ICAN. https://www.icanw.org/hiroshima_and_nagasaki_bombings

Hiroshima’s Path to Reconstruction. (2015). Hiroshima Prefecture and The City of Hiroshima.

Kisah Tsutomu Yamaguchi Selamat dari Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki. (2020).

https://www.dw.com/id/tsutomu-yamaguchi-selamat-dari-bom-hiroshima-dan-nagasaki/a-54463122

Naono, Akino (2019). “The Origins of ‘Hibakusha’ as a Scientific and Political Classification of the Survivor”. Japanese Studies 39(3): 333-352.

Rothman, L. (2017). After the Bomb: Survivors of the Atomic Blast in Hiroshima and Nagasaki Share Their Stories. TIME. https://time.com/after-the-bomb/

Solomon, F. & Marston, R.  (1986). The Medical Implications of Nuclear War. National Academy of Sciences. http://www.nap.edu/catalog/940.html


Penulis : Ririn Tri Nurhayati

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published.